Minggu, 24 April 2016

PURNAMA DI LANGIT DOEMAI




Malam penuh bintang bertaburan di langit malam, cahaya sang bulan menerangi setiap sudut kegelapan, membuat malam yang dingin terasa lebih menenangkan. Tapi semua itu hanya sementara, ketika awan hitam menutupi itu semua, disertai hujan deras di seluruh penjuru kota, disertai petir yang mengelegar di sana sini, membuat hati tenang menjadi tak karuan.
Itulah aku saat itu, mengingat kembali rasa itu sungguh membuat ku ingin mengakhiri hidup ini, tapi ku masih bertahan karena sesesorang yang selalu ada di hati ini menerangi jalan hidup ku.
21 Agustus 2004 saat ini, tanggal 21 Agustus sungguh bermakna bagiku, penuh kenangan yang menyedihkan dan membahagiakan.

Flash Back.
21 Agustus 2004
Malam ini adalah malam pertama kali kedua kaki ini menginjakkan  tanah melayu. Setelah menerima ijazah S1 dari salah satu perguruan Tinggi Negeri di Kota Padangsidimpuan, ku ingin mengepakkan sayap dan berjuang di tanah rantau, dan tekad saya sudah bulat untuk merantau ke kota BATAM yang pada tahun 2004 masih salah satu wilayah dan sentral industri di provinsi Riau. sebelum berlabuh menuju Batam, saya harus transit dulu di Kota Dumai dan kawan akrab yang telah lama merantau di kota Dumai mengundang diriku untuk singgah dikediaman mereka. Dan tawaran itu aku terima dengan senang hati, tapi dengan tekad masih harus merantau ke Batam. Seminggu di Dumai, bekal yang dibawa dari kampung semakin menipis dan tak ada jalan lain kecuali harus kerja mencari uang untuk biaya hidup sehari-hari. Awalnya ikut kerja di bengkel kawan, bengkel dinamo. Dalam khayal diri ini sudah sampai ke seberang tetapi ternyata raga masih terdampar di Kota Dumai. Karena kawan melihat saya tidak ada minat untuk kerja bengkel, si kawan menganjurkan untuk melamar dmenjadi guru di sekolah dekat kontrakan kawan. Akhirnya aku diterima di dua sekolah tingkat SLTP swasta di bagan besar dan di Kelakap Tujuh.
Maret 2006
Singsingan angin sore membuat sekawanan awan di langit bergerak ke arahku. Perlahan semakin mendekat, sebagian telah melangkahi kepala hingga aku harus memutar badan untuk melihatnya. Aneh rasanya akan apa yang baru saja aku lihat, beberapa kali sempat kualihkan pandanganku.
“Mengapa ini?  Bagai mimpi saja,” bersitku dalam hati. Sampai ke sekian kali melihat keadaan masih juga sama, baru aku yakin itu benarlah nyata.
Tak heran memang, kala itu, mataku terpana saat menilik langit yang tak berujung itu. Ada kepulan awan membentuk serupa huruf abjad, hingga hati dan pikiranku lenyap ke dalamnya. Aku menjadi lupa di mana dan sedang apa. Padahal aku dengan teman-temanku sedang di Kantor Dinas Pendidikan Kota Dumai melihat pengumuman kelulusan Guru Bantu Provinsi (GBP) Tahun 2006, ternyata nama ku tertera di nomor urut dua bersamaan dengan 103 nama yang lain, Alhamdulillah Allah menganugrahkan tanggungjawab dan rezeki bagi hamba-Nya yang malang. 
Meskipun nyata, kejadian sore itu telah menyulapku, membuatku mematung dan terpaku di teras Kantor Dinas Pendidikan Kota Dumai bagian Mutendik.Ternyata tak hanya aku yang lulus dari sekolah asalku, ada juga Ibu Marsilawati yang kami panggil dengan nama Susi yang selalu setia menjadi teman berbagi suka cita di madrasah yang kami cintai. Melihat namanya tercantum di papan pengumuman, Susi juga seperti di dalam mimpi dan ia sempat memanggilku beberapa kali. " Pak Has, Pak Has, coba lihat nama kita ada di Pengumuman, kita lulus Horeeeee.... ", teriaknya menyadarkan aku dari lamunan. Dan peristiwa hari itu menguatkan semangat dan ghirah mengajar karena diikuti dengan gaji yang lumayan... hehehehehe.....

Cerpen Cinta Sedih - Kenangan Hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar